Tiga Anak Pardi Meninggal karena “Dimakan” Jenglot
INI adalah sebuah kisah nyata yang dialami seorang pengusaha kaya yang jatuh bangkrut, kemudian ia mencari pesugihan lewat bantuan jenglot. Untuk kerahasiaan narasumber, penulis menyamarkan tempat tinggal dan identitas pelakunya tanpa mengurangi keaslian ceritanya.
PADA awalnya, Pardi, merupakan saudagar kaya. Ia memiliki sejumlah toko kelontong dan ia pun cukup disegani warga sekitar. Sebagai warga sebuah kampung di Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Pardi memang terkenal royal dan mau membantu tetangganya yang membutuhkan pertolongan.
Sikap toleran inilah yang membuat keluarga Pardi dikenal banyak orang. Selain toko kelontong, ia pun memiliki beberapa kebun dan sawah. Jika panen tiba, ia tak sungkan untuk membagikan hasilnya kepada mereka yang membutuhkan.
Boleh dibilang, Pardi merupakan sosok warga yang mampu menyenangkan banyak orang.
Namun seiring perjalanan waktu, roda perekonomian Pardi mulai seret. Pendapatan dari usaha toko kelontongnya mulai menyusut dan lambat lain meredup. Ia mulai panik. Ia tak mau terlihat miskin di mata warga yang mengaguminya dan ia mencoba memutar otak agar secepatnya memiliki uang yang banyak agar usahanya dapat tertopang, sehingga terhindar dari kebangkrutan.
“Akhirnya Pak Pardi menjual sisa kebun dan sawahnya. Kemudian ia meminta saya untuk mencari orang pintar yang mampu mendatangkan uang dengan cepat, apapun syaratnya ia sanggup memenuhinya,” ujar Miftah, rekan Pardi kepada penulis,
Miftah kemudian mencoba menghubungi rekannya di daerah Kabupaten Subang. Di sana konon ada dukun yang sanggup mendatangkan uang gaib. Pardi pun langsung tertarik dan mengajak Miftah untuk menemaninya.
“Saya dan Pak Pardi lalu berangkat ke Subang. Saya dikenalkan dengan Pak Zeni yang katanya dukun yang mampu menarik uang gaib. Setelah ngobrol, Pak Zeni bersedia membantu, tetapi harus dengan perantara jenglot dan Pak Pardi langsung mengiyakan. Bahkan apapun risikonya, Pak Pardi sanggup menanggungnya,” ungkapnya.
Akhirnya Pardi menyediakan syarat yang harus dipenuhi, terutama dua labu darah. Labu darah ini untuk makanan jenglot sebelum dan setelah mengeksekusi uang gaib. Labu darah itu kemudian dituangkan ke atas pisin atau piring kecil yang datar untuk diminum hantu jenglot.
“Setelah waktu yang telah ditentukan, saya, Pak Pardi dan Pak Zeni melakukan ritual di tengah malam. Eksekusi dilakukan di rumah Pak Zeni. Sebelumnya Pak Pardi diminta untuk menyediakan enam kardus air mineral, untuk menyimpan uang gaib yang dieksekusi jenglot,” tuturnya,
Saat proses ritual berlangsung, terdengar suara seperti benda keras jatuh di atas rumah. Jedar jedur suara hantaman itu saling bersahutan. Pak Zeni terlihat komat kamit membaca mantera dan suara seperti benda jatuh itu seolah tak berhenti.
“Sekitar satu jam, suara benturan keras itu pun berhenti dan setelah itu kami bertiga terdiam. Lampu masih dalam keadaan mati, sehingga ruangan khusus kami masih gelap gulita. Tak ada satupun cahaya yang masuk ke ruangan,” ucapnya.
Tak lama kemudian, Pak Zeni menyalakan lampu. Miftah melihat tiga dari enam dus sudah terisi. Saat dibuka ternyata ada tumpukan uang bernominal Rp 100.000an. Semua tertumpuk dengan rapi, hanya saja ada semacam lendir di sana sini.
Menurut Pak Zeni uang tersebut belum sempurna dan hantu jenglot miliknya masih mau mengisi tiga dus yang masih kosong.
Akhirnya, ritual kedua pun dilanjutkan. Suara seperti benda jatuh di atas rumah kembali terdengar nyaring, tetapi anehnya tidak ada tetangga Pak Zeni yang terbangun. Rupanya, suara itu hanya didengar Miftah, Pak Zeni dan Pak Pardi.
“Setelah ritual selesai dan lampu kembali dinyalakan, saya melihat tiga dus yang terakhir sudah terisi penuh uang. Namun uangnya bukan rupiah tetapi dalam bentuk dolar dan uang itu pun terdapat lendir di sana sini. Saya menduga lendir itu berasal dari jenglot,” kata Miftah.
Mengunci
Setelah semua dus terisi uang, Pak Zeni meminta Pardi untuk mencari orang yang mampu menyempurnakan uang tersebut. Keesokan harinya, Miftah yang mendapat tugas dari Pardi untuk kembali mencari orang pintar berikutnya, lantas mengontak rekannya di Bogor. Sebab, ia mendengar jika di Bogor ada seorang habib yang bisa mengunci dan menyempurnakan uang gaib. Hanya saja, habib, sebut saja bernama Husein, meminta bagian 25 persen dari uang tersebut.
“Permintaan habib disetujui Pak Pardi, karena dia pikir uang sisanya masih cukup untuk membangun usahanya kembali seperti dulu. Ritual pun dilakukan dengan para santri yang dibawa habib dari Bogor. Masing-masing santri membaca bacaan khusus sebanyak 41 kali,” paparnya.
Usai ritual yang dilakukan para santri, uang pun dibagikan. Pak Zeni, habib dan Miftah memperoleh bagian masing-masing. Tentu saja, wajah Pardi sangat sumringah karena sudah terbayang usahanya dapat maju seperti dulu dengan modal yang tak sedikit.
Pardi kemudian pulang dan membuka kembali usaha yang dulu pernah dirintisnya.
Namun kali ini dengan toko yang lebih besar dan lebih lengkap. Ia pun membeli kebun dan sawah, dan tentunya dengan lebih banyak dan luas.
“Namun baru setahun perjalanan usahanya, tiga anaknya mulai dirundung musibah. Asep, anak sulungnya sakit-sakitan dan tak kunjung sembuh, Imas sering kecelakaan lalu lintas terus dan Wawan yang seperti mengalami depresi atau stres. Musibah itu terus terjadi sampai ketiga anaknya meninggal dunia dan terus terang saya merasa ikut bersalah karena sudah mau diajak Pak Pardi untuk mencari pesugihan lewat jalur jenglot,” ujar Miftah.
Namun sebelum ketiga anaknya meninggal dunia, Pardi terus menerus mengeluarkan uang untuk kesembuhan anaknya. Sampai akhirnya, harta yang ia peroleh pun kembali habis tak tersisa.
Ini adalah pelajaran penting bagi semua orang agar tidak terjerumus pada praktik yang dilarang agama. Perlu dicatat, jika kita meminta pertolongan pada makhluk gaib, tidak ada yang gratis.(Ruddy)
TAG:
Cara Cepat kaya, ritual pesugihan, doa cepat kaya, Ritual cepat kaya, kaya raya dengan pesugihan, cara dapat uang cepat, cara sukses kaya raya, pesugihan dalam islam,